Dilamar Anak Mama yang Lulusan S2
Kisah ini terjadi pada sahabat saya, Mia. Menjelang usia 30, semua wanita pasti mengalami masa stress. Usia kritis ini seringkali membuat keluarga kita akan panik dan mereka rajin bertanya. "Kapan Mama dikenalin calonnya?". Namun hal ini tidak terjadi pada saya dan Mia. Melainkan terjadi pada senior kami yang notabene satu jurusan di kampus. Lho memangnya kenapa? Kurang cantik ? Mana mungkin cantik, lha wong senior kami ini laki-laki :)
Sebut saja Mardi, senior angkatan 2000. Sedangkan saya dan Mia angkatan 2002. Awal mula perkenalan keduanya saat orientasi kampus. Semua maba (mahasiswa baru) diwajibkan mengumpulkan tanda tangan senior. Penting ga penting, ya harus dipatuhi. Nah waktu Mia minta tanda tangan terjadilah obrolan yang asik dan mengendap di hati.
Cuma karena tanda tangan ? Ga juga, maklum lah si mardi ini termasuk mahasiswa yang penuh dengan fasilitas. Jadi so pasti, koleksi diktat dan buku-buku kuliahnya lengkap habis. Koperasi mahasiswa aja kalah. Karena Mia sudah kenal baik, jadi rajin pinjam buku deh.
Mungkin memori ini yang membuat Mardi menghubungi Mia di tahun 2012 yang lalu. Melihat kabar terbaru teman satu angkatan via Facebook, rupanya bikin iri berat. Maklum lah hampir semuanya sudah menikah. Gambar bayi baru lahir jadi tren baru di Facebook. Ucapan berdatangan mirip artis baru menang kompetisi nyanyi di TV.
Mardi jadi gerah. Apalagi si Mama minta cucu. Haduh kenapa ga minta pulsa aja sih. Akhirnya karena desakan dari sang mama, mardi bergerilya mencari sang hawa. Nah begini kronologisnya :
Di suatu hari yang indah, dan yang pasti bukan malam jumat kliwon. Mia menerima inbox dari Mardi via Facebook. Setelah "say hi" dan basa-basi dilanjut bertukar nomer telepon. Singkat cerita Mardi mengutarakan niat untuk menjalin hubungan yang serius. Dan ingin segera menikah. Lantas melahirkan anak-anak soleh dan sholehah dan berguna bagi Nusa dan bangsa. Wah kaya tulisan di kardus hajatan aja. Saya jadi penasaran dapat jajan apa ya di dalam kardus.
Mia memang ingin segera menikah. Tapi juga tidak tergesah- gesah. Maksa banget ah.
Ok, jadi begini ceritanya. Wanita mana yang tidak mengharu biru ketika ada pria yang mengajak serius. Tetapi jelas, semua wanita pasti butuh kepastian akan masa depan. Bukan matre, tapi periksa kehamilan dan bayar sekolah anak-anak tidak bisa pakai cinta, komitmen atau "sabar dulu ,papa cari uang dulu ya". Yahhhhh bisa pada putus sekolah dong kakak.
Oleh karena itu, Mia minta waktu untuk mengenal Mardi lebih jauh. Sejauh apa? Sejauh rumah Mardi dan Mia. Ga mungkin juga jalan kaki apalagi naik angkot kalau mau jemput Mia. Mardi pun memamerkan dua motor yang dimilikinya. Plus gadget yang terupdate tentunya. Yah namanya juga lagi usaha, jadi harus kelihatan menyakinkan dong. Termasuk membawa mawar merah. Eh jadi mirip lagu dangdut. Sekuntum mawar merahhhh...Mirip serial korea deh. Kecuali soundtrack dangdut dan warna kulitnya yang sawo matang.
Sepulang kerja, Mia dijemput Mardi untuk bertemu calon mama mertua. Ibunda Mardi senang luar biasa. Berbagai hidangan spesial pun dibuat untuk menyambut kedatangan sang calon menantu. Menurut Mia, hari itu makanannya memang enak.Tapi fakta tentang Mardi yang tidak enak. Walaupun begitu , Mia makannya tetap lahap dan banyak.
To be continue....

Comments
Post a Comment