Patah Hati Makan Biaya
![]() |
| Menuju Perbatasan Thailand |
Februari tahun lalu sejarah patah hati yang memakan banyak biaya. Saya sangat berharap sekali, bisa menikah di tahun 2014 yang lalu. Saya punya rencana tapi Allah yang memutuskan. Menangis semalaman dan harus tetap berangkat kerja di esok paginya. Saya berusia 31 tahun, belum menikah, minim prestasi dan banyak yang belum saya tahu di luar sana.
Berani mencintai, harus berani juga patah hati. Berkali-kali saya merasa sangat bodoh dan menyalahkan diri saya sendiri. Tapi cukup! Saya harus sembuh dan bisa melihat hidup dari sisi yang berbeda. Oleh karena itu Saya memutuskan untuk bertualang seorang diri. Lebaran tahun lalu menjadi start bagi saya berpetualang ke luar negeri.
Pergi seorang diri menjadikan kita lebih mengenal diri sendiri. Saya tidak pernah merasa kesepian ketika sendirian. Selalu ada hal lain yang saya dapatkan. Kedewasaan diri dan yang lebih penting memaknai hidup menjadi lebih baik.
Setiap kali saya pulang travelling, ada oleh-oleh yang berharga yang saya dapatkan. Walaupun tidak dapat disentuh dan hanya saya rasakan dalam diri saya sendiri. Menemukan cinta dalam arti yang berbeda. Terkadang hidup tak bisa dicerna dengan logika. Seorang wanita paruh baya yang tidak punya pilihan terhadap pendidikan anak-anaknya. Dua juta untuk masuk SMA itu mahal sekali. Jadi lebih baik anaknya yang mau akan lulus SMP itu bekerja jadi pembantu rumah tangga saja. Miris, saya hanya bisa menelan ludah.
Saya paham, bahwa hidup terkadang menjalani yang kita tidak rencanakan. Tapi kita harus gagah dan kuat menjalaninya. Pria ini menekankan kata-kata tersebut. Pelan tapi maknanya sangat dalam. Sedalam dia menghisap rokok dan pikirannya menerawang entah kemana. Saya ingat betul dia juga berkomentar tentang jokowi yang tidak akan bisa merubah banyak negeri ini. Ya, percakapan di sebuah stasiun kereta api. Perbatasan antara Malaysia - Thailand. Saya tidak akan pernah lupa. Dengan pria menjelang 60 tahunan, asal Singapura tersebut.
Solo backpacker membuat saya mau tidak mau harus ngobrol dengan orang yang saya temui. Untuk sekedar berbagi cerita atau mencari informasi lebih. "Cinta sejati itu ada bagi yang mempercayainya" Saya mendekap Novel "Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia". Air mata saya jatuh, menikmati pagi dari balik jendela kereta api. Mentari yang mulai memancarkan sinarnya. Perlahan mengganti pekat, mengusir dingin. Cahayanya menerangi jalan akan sebuah harapan. Kehangatannya menusuk di hati, seolah berbisik "aku akan baik-baik saja ".


Comments
Post a Comment