Kenapa harus dia ? Hindu Bali



Kenapa harus dia ? Pria Bali beragama hindu ?

Saya mencoba mencari jawaban. Kenapa saya merasa ada sesuatu. Di sikapnya. Di matanya. Berkali-kali mencoba menyakinkan diri sendiri. Bahwa tidak mungkin dia suka. Tapi hati kecil ini tidak dapat dipungkiri. Saya sering kali tidak tanggap. Kalau ada pria yang suka.

Kebanyakan sahabat saya,  Mia yang melihat seseorang itu ada "rasa". Ibu bilang karena saya kebanyakan baca buku melulu. Makanya jadi ga pinter kalau ada pria yang kasih "sinyal" suka. Lagian hari ini gini kenapa ga langsung terus terang aja sih. Bilang suka terus lanjut gitu.

Tapi kali ini berbeda. Dia bukan tipe saya. Bukan pria yang biasanya saya kagumi. Selera saya memang payah. Kebanyakan pria yang saya suka itu playboy. Parah !Tapi cuma dia yang bisa bikin bengong kaya ayam lupa daratan.  Tidak ada rasa apapun waktu bertemu dia. Saya sih cuek bebek. Dia bercanda ya saya anggap humor saja.

Waktu dia duduk di samping saya. Ga ada rasa deg-deg an. Apalagi jantung terasa naik turun kaya naik lift rusak. Tidak sama sekali. Waktu saya menatap matanya dengan dalam. Biasa aja tuh. Toh dia lagi duduk di sebelah saya. Deket banget. Kaya naik angkot. Sebagai wanita tahu diri dong, akhirnya saya bergeser. Menjauh. Tepatnya sedikit menjauh. Yah itu mah masih deket juga.

Haduh paling males kalau lagi kondisi seperti ini. Penasaran sama seseorang. Padahal belum tentu dia penasaran sama saya juga. Bagaimana cara meredamnya? Biar ga gelisah dan tetap bisa beraktifitas seperti biasa. Yang pertama banyak makan. Dikunyah pelan-pelan saja. Setelah itu baru minum. Habis itu kepikiran dia lagi. Gubrak. Tetep ga berhasil.

Pikiran sudah mentok. Dia ga punya sosial media. Paling tidak dengan nama sebenarnya. Ga bisa stalking deh. Yang ada cuma info betapa dia rajin upload makalah presentasi sama Power point. Ada juga foto selfie di Instagram. Itu juga mahasiswanya yang upload. Foto rame-rame. Ok, dia populer di kampusnya. Artinya ? Saingan bertambah dong. Oh noooo.

Saya ini suka error. Alhamdulillah saya ingat Allah kalau lagi error. Mengutarakan semua rasa gelisah. Pasrah. Tidak paham akan rencana Allah. Saya ingin cinta yang sederhana. Mirip rumah makan sederhana masakan padang. Tapi kenapa hati ini malah mogok di dia. Pria Bali. Hindu pula. Ya Allah apa kenapa ?

Keesokan paginya, teman satu kampusnya datang. Ada berkas yang harus diselesaikan. Seorang dosen perempuan  berusia 47. Beliau dekat sekali dengan dia. Seperti anaknya sendiri. Dari Ibu ini saya mendapatkan banyak informasi tentang dia. Anak terakhir dari lima bersaudara. Satu-satunya anak laki-laki. Dan Ayahnya semacam "lurah" di Bali. Tidak tahu juga istilahnya apa. Wah kok kelas berat ya.

Dia memang masih lajang. Waktunya habis di kampus sampai jam 4 sore. Setelah itu mengurus restoran. Baru pulang ke kost. Aneh padahal sudah punya rumah. Rasanya hampir tidak mungkin dosen muda seperti dia susah cari jodoh. Populer pula. Mungkin dia mencari yang beragama hindu juga. Entahlah. Atau terlalu pemilih.

Apa maksud semua kejadian ini. Tanpa dicari tahu semua informasi tentang dirinya datang. Dan saya belum paham maksud Allah. Apakah saya harus maju atau mundur ? Tapi Oji Bilang Sikat. 

Comments

Popular Posts