Janjian Bertemu
Setelah tahu dia bertunangan. Malam harinya saya langsung mengirim WhatsApp.
"Bli maaf, tadi siang saya ga serius minta traktir kok. Saya takut sama tunangan Bli...... "
Dia hanya menjawab dengan icon smile meringis banyak. Tidak pernah menjawab iya maupun tidak. Seperti menjadi misteri untuk saya.
Lantas bagaimana hubungan kami ? Tidak jelas. WhatsApp saya hanya sebatas ucapan terima kasih atas buku yang dia belikan. Tapi tentu saya sudah berkomitmen untuk membatasi komunikasi. Tidak lucu menjadi orang ketiga. Apalagi merusak hubungan mereka.
Tidak bisa dibohongi, hati ini merasakan energi yang berbeda setiap kali bertemu dengan dia. Tapi sekarang berubah menjadi tangisan. Pupus harapan saya. Patah hati lagi.
Sesekali kami masih kontak. Semua berkaitan dengan pekerjaan. Tiba-tiba dia menghubungi saya. Minta tolong mengurus satu berkas. Akhirnya saya iyakan. Tanpa saya berpikir panjang.
Hari itu saya menunggunya di kantor. Berkali-kali melihat jam tangan. Ini sudah melebihi waktu yang dia janjikan. Tetapi kenapa tidak ada konfirmasi. Aneh. Biasanya juga tepat waktu. Katanya sepulang dari ngajar di kampus. Tapi kok.....
Menjelang sore, dia mengirim saya message di WhatsApp.
"maaf mba, saya tadi ngajar sampe sore. Ga bisa ninggalin Kampus"
Saya mengambil nafas panjang. Dan memaklumi. Jadwalnya memang lagi ribet banget. Tapi saya tidak enak kalau ga bisa membantu dia. Apalagi dia membelikan saya tujuh buku. Ada rasa utang budi.
Tepat di hari raya idul adha. Saya mendapatkan undangan syukuran di rumah atasan. Acaranya setelah magrib. Saya nekad mengajak dia ketemuan di Mall sore harinya. Untuk apa ? Untuk mengambil berkas yang dia akan antarkan tempo hari. Toh tempat undangan saya deket dengan mall itu. Ga menyangka dia mengiyakan. Jujur saya seneng banget. Ini pertama kalinya bakal ketemu di luar kantor. Kaya apa ya sikapnya. Kami janjian bertemu di toko buku.
Keesokan harinya. Saya mengajak Mia untuk menemani. Pukul tiga sore saya sudah berada di toko buku. Saya semangat mendatangi rak dengan tema komputer. Asik memilih buku, tapi mata sesekali melihat pintu masuk. Siapa tahu dia udah datang. Ternyata ga seorang pun yang saya kenali. Saya melanjutkan Hunting buku. Mencari judul yang udah diincar lama.
"beli, beli, beli"
Suara itu mengagetkan saya.

Comments
Post a Comment