Pria Itu Sudah Bertunangan
Tiga bulan buat menaklukan pria bali itu ? Apa cukup ? Entahlah. Dalam kebimbangan tersebut saya menghubungi seorang teman baru. Kami berkenalan di kantor. Annisa namanya. Lupa berawal darimana, kami dekat. Usianya yang lebih muda , rasanya seperti memiliki adik perempuan.
Perempuan memang ga betah menyembunyikan perasaan sendiri. Saya bercerita tentang pria tersebut kepadanya. Nisa kenal. Mereka memang bukan satu almamater. Tapi Nisa sangat familiar dengan namanya. Lantas dia memberikan beberapa pertanyaan yang awalnya seperti menyudutkan saya.
"kok bisa sama kamu ?"
"memang kenapa Nis !"
"dia bukannya udah punya tunangan?"
Spontan saya langsung lemes. Kok bisa saya sebodoh ini ? Sudah bertunangan kenapa masih tebar pesona. Seperti memberi harapan. Kenapa juga dia langsung berangkat malam itu juga, ketika saya meminta sebuah buku. Ah bodohnya ! Harusnya saya percaya, bahwa hubungan antara saya dan dia hanya sebatas tuan dan pembantu. Tidak lebih. Tapi Oji berasumsi lain.
"itu fotonya jadul amat Min "
" iya Ji, emang foto lama"
"terus lo percaya kalau itu foto tunangan ?"
"kan emang udah terbukti Ji "
" itu foto jadul banget Min, dan kalau dia emang tunangan terlalu lama....hari ini masih belum merit"
"alasan mereka belum mΓ©rit, urusan beda Ji. Tapi pantang buat gw merusak hubungan mereka. Gw harus menghormati hubungan mereka"
"Min dengerin gw ya. Menurut gw, lo itu harapan barunya"
"Ji, dia pacaran ama tuh cewek dari jaman kuliah. Kalau dihitung sampe sekarang udah lebih dari 7 tahun. Artinya dia memang setia ama cewek itu "
"Min, Belum tentu. Masih ada hal yang mungkin lo ga tau. Jangan nyerah dulu Min! "
"gw mundur Ji, sorry tantangan dari lo harus diakhiri "
Keesokan harinya, saya patah hati lagi. Ga bersemangat mengerjakan apapun. Mungkin dia memanfaatkan saya untuk sesuatu. Sehingga seolah-olah dia tertarik. Ah, dasar cowok. Saya menarik diri secara perlahan. Sengaja membatasi komunikasi. Termasuk melawan rasa rindu karena terbiasa chat via whatsapp sampai tengah malam.
Padahal sehari sebelumnya saya bertemu dengannya. Dia datang khusus memberikan buku "Hidup Sederhana". Buku yang sangat menarik , ditulis oleh Desi anwar. Bahkan setelah membeli buku tersebut, dia mengirimkan gambarnya kepada saya. "Bukunya habis saya borong mba" . Kata-kata itu masih saya ingat dengan baik. Tiga buku sekaligus dia beli. Untuk saya, untuk Ibunya dan satu lagi untuk......entahlah...mungkin untuk dia sendiri atau seseorang lain disana.
" Bli bentar deh "
"Ada apa ya mba"
"Sebentar saya ambil kalender meja. Saya titip pesan ke teman Bli di kampus !"
"Siapa ya mba?" bahunya mendekat ke saya. Dan dengan serius memperhatikan jari saya di atas kalender.
" Bli pasti kenal deh. Di tanggal ini dia ulang tahun. Tapi sayang pada hari itu dia keluar kota, tolong sampaikan ya, saya tunggu traktirannya "
Wajahnya langsung memerah dan melemparkan plastik pembungkus buku ke arah saya. Dia hanya tersenyum. Dia sadar bahwa tanggal itu hari ulang tahunnya.
Sebuah takdir berkata lain, hingga di suatu hari kami janjian bertemu dan mengubah keadaan....
Sebuah takdir berkata lain, hingga di suatu hari kami janjian bertemu dan mengubah keadaan....

Comments
Post a Comment