Buku Hindu Untuk Saya


Ada kesalahpahaman. Antara saya dan dia. Pria Bali itu. Saya memilih diam. Sebulan lamanya. Larut dalam doa. Pasrah dengan keadaan. Saya tahu dia juga binggung. Kami terjebak dalam sebuah situasi. Melibatkan orang lain. Rekan kerja kami yang lain. Murni masalah pekerjaan.

Terakhir bertemu saya cuek. Saat itu dalam sebuah rapat. Saya menghindar untuk duduk di dekat dia. Bahkan menghindari kontak mata dengannya. Hanya rasa marah. Menahan dengan luar biasa agar tidak meledak. Untungnya dia pulang lebih awal. Tidak menunggu rapat selesai.

Saya benar-benar kecewa dengan sikapnya. Datar. Seolah-olah tidak ada masalah. Justru itu yang membuat saya semakin marah. Akhirnya saya putuskan untuk diam. Tidak menghubungi dia sama sekali.

Setelah satu bulan lamanya. Akhirnya pada suatu pagi dia mengirim WA. Saya cuek. Belum mau membuka. Magrib dia mengirim lagi. Justru WA yang dia kirim mengungkit luka yang selama satu bulan saya simpan. Tapi saya tahu , semua harus segera diakhiri. Ingin segera membuka. Membaca. Menjawab dan menarik diri perlahan. Setelah itu membatasi diri. 

Setelah puas menahan marah. Keesokan malamnya saya buka WA darinya. Sebelumnya saya sholat hajat. Memohon Allah agar semuanya dapat berakhir dengan baik. Pukul 9 malam. Hujan kian deras. Dinginnya malam tidak serta merta membuat kepala dingin. Tapi harus tenang. 

"Saya tidak mau hubungan baik kita ternodai karena masalah pekerjaan "

"Saya tidak mau kehilangan teman, sahabat. Saya minta maaf jika ada yang tidak berkenan "

"Saya tidak enak makan. Tidak bisa tidur nyenyak. Maag kumat. Karena memikirkan mbak"

Saya langsung terpingkal - pingkal menahan geli. Saya segera membalas. Menjelaskan hubungan baik kami tidak akan ternodai. Tidak butuh waktu lama baginya untuk membaca WA saya. Langsung dibalas. Saya tahu dia menantikan balasan. Hubungan kami cair seketika.

" Saya punya buku bagus buat mbak. Buku spiritual. Judulnya bintang lima"

" Saya mau dong. Saya juga punya buku bagus buat Bli. Ada reinkarnasinya. Bli pasti suka"

" Kita barter dong ?"

"Anggap aja tuker kado " jawab saya sekenanya.

Kami mengobrol sampai hampir tengah malam. Setelah pamit satu sama lain saya tidak bisa tidur. Padahal sedari tadi sudah Leyeh-Leyeh di tempat tidur.

"Tidak mau kehilangan teman, sahabat?" Apa maksud dibalik kata tersebut. Kenapa dia khawatir kehilangan hubungan baik kami?

Saya pertama kali mengenalnya tahun lalu. Tetapi dekat baru 3 bulan terakhir ini. Sepenting itukah saya untuk dia ?

"Bintang Lima". Dia mulai terbuka memberikan buku spiritual. Secepat ini ? Kenapa dia memberikan kepada saya?

Disisi lain dia tidak tahu. Bahwa saat ini saya sudah membeli Rgveda. Saya mempelajari isinya. Membacanya sama sekali tidak mudah. Tentu sulit untuk mencerna. Tapi saya harus tetap mempelajari isinya. Saya selalu tertarik membaca kitab suci. Karena rasa cinta terhadap bahasa. Dan tentu saya menghormati kitab agama apapun.

Hubungan saya dengan pria Bali itu memasuki babak baru. Kami satu sama lain sama-sama membuat strategi untuk mengenalkan agama kami masing-masing.

Dan saya tidak akan menjelaskan islam kepadanya. Sebelum dia yang bertanya. Biarkan diskusi terjadi melalui buku yang dia berikan. Dan diam-diam saya membeli buku spiritual lainnya melalui toko online.

Bismillah. Ya Allah berikan hamba kekuatan untuk menghadapi pria ini. Matikan hamba dalam keadaan  Islam. Dan penuhi cinta hamba hanya untukmu. Jangan biarkan cinta palsu memenuhi hati ini. Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan hamba. Jika memang ada hikmah dibalik pertemuan hamba dengan pria ini. Mudahkan ya Allah... Amien...

Comments

Popular Posts