Cinta harus sederhana
Cinta harus sederhana. Hal ini saya yakini. Semua artikel yang saya tulis menjadi doa. Tentu saja tidak boleh asal-asalan dalam menuliskan kegelisahan di dalam diri. Di satu sisi menulis merupakan obat mujarab untuk mengeluarkan apapapun yang kita rasakan. Ada beban yang berkurang. Di sisi lain, apa yang kita tulis menjadi doa.
Cinta harus sederhana. Mudah dipahami oleh kedua pihak. Tidak ada yang tertutupi. Terang benderang. Dan jelas tujuannya. Bukan untuk bersenang-senang tanpa komitmen. Namun mengenal untuk kemudian menjalin ikatan sakral.
Seringkali bertanya di dalam diri. Kenapa cinta saya rumit. Atau memang belum menemukan yang seharusnya. Mungkin kejadian yang lalu adalah jatah gagal yang harus dilewati. Keluar masuk online dating belum ada hasil. Saya bertemu pria "real". Tapi tidak ada rasa klik.
Semua account online dating akhirnya saya tutup. Introspeksi diri. Apa mungkin ada yang salah. Saya hanyut dalam ketenangan diri. Membuka buku-buku lama. Membacanya. Dan menemukan kedamaian. Fokus kerja di kantor. Dan menikmati event demi event yang saya kerjakan.
Hingga pada akhirnya pria Bali itu datang. Rasa gelisah menjadi semakin parah. Banyak artikel yang saya tulis tentang dia. Semua adalah rasa takut dan khawatir di dalam hati. Tidak bisa saya simpan lama-lama . Menanggung sendirian.
Sering kali saya iri, melihat teman-teman dapat menemukan pasangan dengan mudah. Tidak perlu aral yang diterjang. Tidak perlu melobi untuk restu orang tua. Namun saya sadar. Hidup saya adalah milik Allah. Allah yang berhak menulis semua skenario. Semua tidak ada yang kebetulan. Semua telah tertulis detail. Takdir harus dijalani. Dihadapi dengan rasa ikhlas. Tetap berprasangka baik kepada Allah.
Cinta selayaknya sederhana. Tidak rumit. Kisah cinta saya terang benderang. Dengan segala perbedaan yang ada di depan mata. Penuh harap dan cemas. Tidak akan pernah tahu bagaimana endingnya. Rasa bahagia itu ada. Nyata. Tawa itu selalu hadir. Namun kisah ini bisa usai kapanpun.
Teringat di tahun 2014. Dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Bangkok. Novel Asma Nadia menemani perjalanan saya. "Assalamualaikum Beijing". Ketika akhirnya Zhongwen mendapat hidayah dan menjadi mualaf . Apakah kisah itu kelak akan menjadi milik saya ? Asma yang dulu terluka oleh Dewa, kini dia menemukan cinta dalam diri Zhongwen.
Butuh perjalanan panjang untuk melupakan pria Melbourne itu. Hati ini harus dijaga betul. Dia masih rapuh. Masih penuh tanya apakah cinta untuknya ada. Air mata menjadi saksi . Menangis dalam doa. Jika dia tidak bisa menemukan cinta maka biar cinta yang menemukannya.
Butuh perjalanan panjang untuk melupakan pria Melbourne itu. Hati ini harus dijaga betul. Dia masih rapuh. Masih penuh tanya apakah cinta untuknya ada. Air mata menjadi saksi . Menangis dalam doa. Jika dia tidak bisa menemukan cinta maka biar cinta yang menemukannya.
Cinta yang sederhana dan mudah dicerna. Namun saya gagal memahami. Hampir terlambat menyadari. Namun, semuanya terang benderang lewat sebuah kalimat dan tatapan mata . Terlambat untuk lari. Karena ada keterikatan hati antara saya dan dia. Kami terdiam tapi paham.
Kata - kata itu yang masih lekat. Kata terakhir sebelum dia pergi ke Bali. Penuh tanya. Melumpuhkan logika. Ada getar di dalam suaranya. Ada kehangatan dalam tatapannya...
" Saya laki- laki, tidak bisa selalu ada disini..."
" Saya laki- laki, tidak bisa selalu ada disini..."

Comments
Post a Comment