Kata Maaf Tiba Juga
Kata maaf itu akhirnya tiba. Setelah magrib. Pukul enam sore. Ketika berbuka puasa. Akhirnya dia luluh juga. Menyerah. Kepada saya. Seorang wanita yang tanpa daya. Entahlah. mungkin dia sadar. Mungkin egonya luntur.
Pria selalu sulit minta maaf. Egonya tinggi. Terlebih jika punya kedudukan. Biasa dihormati. Dilayani. Dikagumi. Daripada minta maaf. Mereka lebih memilih cuek.
Saya ingat betul. Seminggu menahan rasa marah. Kecewa. Betapa sikapnya cuek. Tidak ada satu maaf pun yang terlontar. Saya menangis. Dalam perih. Terluka. Terhina. Seseorang telah mengambil tugas saya. Lancang. Tanpa permisi.
Lantas saya diam. Tidak ada komentar. Atau sikap apapun. Hanya diam. Hampir sebulan. Tanpa komunikasi. Tanpa reaksi. Kemarahan saya masih meluap-luap. Sakit itu masih muncul. Namun saya simpan dalam diam.
Semuanya harus diakhiri. Cepat atau lambat akan terjadi. Demi kebaikan saya sendiri. Dendam yang tertahan hanya jadi penyakit.
Saya disini yang menjadi korban. Diantara 2 orang lainnya yang saya tidak kenal. Ingin membantu tapi malah masuk ke dalam lingkaran permusuhan.
Tapi saya belajar banyak hal. Diam itu memang bijak. Sikap diam akan membuat orang lain gelisah. Serba salah. Melunturkan yang punya ego dan kuasa. Hingga hatinya terbuka.
Pria, memang seperti itu. Sadarnya baru sebulan. Sikapnya cuek. Seolah tidak ada apa-apa. Tidak sadar ada yang terluka. Tidak sadar siapa yang berkorban. Tidak sadar siapa yang merusak keadaan.
Lebih percaya sama teman "dekatnya" dekat dalam artian mengenal seperti saudara. Atau tumbuh sesuatu ?Telah bertahun-tahun berkawan. Tapi bukankan seharusnya dia bisa objektif. Membaca situasi. Membaca siapa yang punya kepentingan. Terlebih ada tendensi cari perhatian.
Saya hanya diam. Sholat hajat. Mengadu kepada Allah. Berdoa agar ditunjukkan siapa yang salah. Saya sadar saya ini siapa. Hanya pembantu bagi tuannya.
Pesan itu belum saya buka. Masih rapih di WhatsApp. Saya masih diam seribu bahasa. Saya tersenyum. Penuh dengan kemenangan. Doa saya didengar Allah. Wanita lemah tanpa kuasa dan daya. Saya cuma punya doa. Dan sholat hajat senjata mujarab.
Pasrah. Mengembalikan semuanya kepada Allah. Terlalu rumit. Sulit dicerna. Dan lelah amat sangat.
Namun ketika kata maaf tiba rasanya plong. Seperti menemukan Oase. Mendapat cahaya di dalam kegelapan. Semuanya berakhir dengan indah. Bismillah.

Comments
Post a Comment