Manfaat Travelling Untuk Saya
Sekelumit maanfaat travelling untuk saya. Dulu memutuskan backpackeran untuk mengobati patah hati. Berjalan hanya mengikuti kata hati. Mengikuti kaki kemana pergi. Yang penting saya punya tiket pulang pergi :)
Tapi sekarang malah kecanduan. Kalau lagi sumpek paling enak memang travelling. Semakin sumpek, enaknya pergi makin jauh. Biar rasanya lepas. Apalagi sendiri. Ga perlu kompromi sama siapapun. Bebas menjadi diri sendiri.
Tapi jangan dikira travelling sendirian ga ada godaan. Lagi patah hati eh ketemu temen jalan yang lagi honeymoon. Ya ampun nasib ! Gini amat ! Tapi itulah dinamika hidup. Banyak realita yang harus siap kita hadapi. Suka atau tidak ,akan tetap mengalir di hadapan kita. Jangan lari apalagi menyerah. Kalau lelah rehat sejenak.
Saya ga kapok pergi sendirian. Biarpun di sekitar saya banyak couple lagi travelling . Emang gue pikirin. Soalnya kan banyak yang lagi travelling sendirian. Kali aja ada yang nyantol. Ehem.
Ga penting menuju ke tempat wisatanya. Paling seru makan di tempat yang tenang terus lihat orang lalu lalang. Mengamati aktivitas dan mencoba menerka jadwal mereka. Atau iseng melihat fashion yang dikenakan. Wanita Singapura , lebih suka pakaian kerja yang simple dengan warna monokrom. Make up tidak berlebihan. Rok diatas lutut.
Wanita karir di Bangkok, suka pakaian kerja agak heboh. Dengan make up terang menyala. terutama pewarna bibir . Alis mata tebal . Dan tentu saja rambut yang ditata sedemikian rupa. Anak sekolah di Bangkok juga ga kalah heboh. Mereka pergi ke sekolah dengan full make up!
Berkeliling kota juga jadi tujuan yang asik. Sekedar muter-muter naik delman, Ojek, bacak, bus, MRT atau kapal untuk menikmati pemandangan.
Wanita karir di Bangkok, suka pakaian kerja agak heboh. Dengan make up terang menyala. terutama pewarna bibir . Alis mata tebal . Dan tentu saja rambut yang ditata sedemikian rupa. Anak sekolah di Bangkok juga ga kalah heboh. Mereka pergi ke sekolah dengan full make up!
Berkeliling kota juga jadi tujuan yang asik. Sekedar muter-muter naik delman, Ojek, bacak, bus, MRT atau kapal untuk menikmati pemandangan.
Perjalanan itu sendiri menyembuhkan. Keliling grand Palace di Bangkok memang seru. Atau ke tempat patung Budha Tidur juga asik . Tapi yang paling seru belajar bahasa Thailand sama pemilik warung deket hostel. Seorang lelaki berusia lebih dari separuh abad begitu semangat. Dia mengajari saya berhitung dari satu sampai sepuluh . Ternyata intonasi saya pas. Apalagi dadakan belajarnya. Beliau bangga luar biasa. Berhasil menjadi guru untuk orang asing seperti saya. Jaid kangen pengen balik.
Perjalanan yang harusnya menyembuhkan patah hati malah berubah tujuan. Di negara gajah putih itu saya mendapatkan hidayah. Saya merasa malu sebagai seorang muslim. Apalagi saya belum banyak belajar tentang agama saya sendiri.
Saya menumpang sholat di kamar seorang bule yang baru saya kenal. Ketemu di angkot dalam perjalanan dari Bangkok menuju Pattaya. Dia bertanya berapa kali saya sholat sehari. Bagaimana tahu arah kiblat.
Travelling tidak hanya menyembuhkan luka. Lebih dari itu. Semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Kadang dengan sentilan yang tidak biasa. Mungkin memang ini cara Allah mendidik saya. Agar memperbaiki diri dulu sebelum bertemu belahan jiwa.

Comments
Post a Comment