Menikmati Hujan Sambil Berdoa


Menikmati hujan sambil berdoa. Ketika saya membuat tulisan ini hujan sedang turun. Duduk di teras sambil menikmati tetesan air.  melewati daun mangga. Mengalir melalui batang pohon jambu. Tanaman di dalam pot yang menahannya. Dahannya hijau lebar. Mirip daun tanaman jati. Air tersimpan di antara daun itu. Indah. Sederhana. Menenangkan.

Awan kelabu. Hari Masih pukul setengah tiga sore. Rasanya seperti magrib. Rasa dingin menyapa kulit. Tapi saya suka. Teringat sebuah hadits. Ketika hujan turun berdoalah. Insha Allah doa kita akan dijabah. Saya menatap awan yang mendung. 

Bertanya tentang dimana letak langit ketujuh. Manusia tidak pernah tahu batasannya. Tapi kita semua yakin bahwa Allah melihat kita. Mungkin dari balik awan. Mungkin melalui tata surya yang lain. Entahlah. Tapi Allah Maha Kuasa dan akan mengabulkan doa.

Kuasa Allah menjaga saya dan kamu semua yang masih jomblo. Menjaga kita semua sampai saatnya tiba. Berdoalah selagi hujan turun. 

Air yang turun dari langit membawa harapan bagi penghuni bumi. Mematikan semua api di hutan. Menumbuhkan benih. Mengaliri sungai yang kering. Menghijaukan sawah. Dan membuat indah menikmati mawar dengan tetes hujan.

Setangkai mawar yang kelak akan diberikan kepada seorang wanita. Mungkin untuk saya. Mungkin juga untuk kamu. Tapi berdoalah ketika hujan. Pria itu yang kelak jadi separuh nyawamu. Dia juga menantikanmu.

Dia menatap awan dalam hujan. Atau dia di belahan bumi yang lain. Berdoa dalam butiran salju yang turun. Berjalan di antara jalan yang berwarna putih. Dan dia berdoa agar segera ditemukan dengan kamu. Dengan saya. Dengan kalian semua. 

Doa adalah energi yang indah. Allah suka dengan doa yang kita panjatkan. Doa diiringi dengan harapan tinggi sekaligus pasrah. Hati kita menjadi di tengah. Percaya dengan semua ketentuan Allah.

Hujan di bulan Desember. Sebelum natal. Menjelang tahun baru. Kita semua segera memasuki tahun baru. Awalan baru. Harapan baru.  Semoga menjadi manusia yang lebih baik.

Hujan masih turun. Semakin deras. Kereta api baru saja melintas. Mengingatkan saya akan perjalanan. Travelling. Mengisi waktu akhir tahun. Belajar sesuatu yang baru. Membuat karya lagi. Meninggikan energi untuk berbuat kepada sesama.

Menulis. Itu yang saya lakukan. Tidak terasa hampir setahun saya menulis. Pekerjaan sederhana yang membutuhkan konsistensi. Menguatkan sesama mahkluk jomblo. Menuliskan semua gelisah. Tapi kata-kata punya kekuatan. Ia bisa menggerakkan. Sederhana tapi menggema.

Suasana menjadi lebih dingin. Hampir setengah jam turun. Dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Tapi hati saya hangat. Harapan dan cita-cita yang menghangatkan. Membuat pikiran saya jadi rileks. Membayangkan ada hati yang sedang menantikan akan hadirnya saya. Bukan cuma saya. Tapi juga kalian.

Saya dan kamu adalah hadiah. Untuk seseorang yang akan jadi separuh nyawa. Menggenapkan setengah Dien. Bertemu dengan cara sederhana. Tidak pelik. Tanpa drama. Apalagi rumit. Saya yakin cinta sejati itu ada. Dia lembut. Seperti tetes hujan yang jatuh pada dahan.

Bismillah. Menikmati hujan sambil berdoa.

Comments

Popular Posts