Saat Semesta Bicara
Saat semesta bicara. Buku ini sampai juga di tangan saya. Hari Jumat yang lalu dia datang dan memberikannya untuk saya. Kami mencoba mengenalkan agama masing-masing. Kami yang sama-sama keras. Kami yang sama-sama bisa membaca hati. Berbicara lewat tatapan mata. Tanpa perlu kata untuk sebuah maksud. Babak baru hubungan ini baru saja dimulai.
Saya juga memberinya sebuah buku. Novel sederhana. Karya Dee Lestari yang berjudul "Madre". Buku berisi beberapa cerpen. Puisi dan prosa. Bukan. Bukan buku Islam yang akan saya berikan.
"Matre" ucapnya asal
"Enak aja" jawab saya protes "Mana buku buat saya?"
"Ketinggalan mbak, tadi kan buru-buru" godanya sambil mengeluarkan buku dari dalam tas.
Saya sangat penasaran dengan buku yang dapat rating bintang lima versi dia. Sampai-sampai ga bisa tidur nyenyak selama seminggu. Ini bukan masalah ringan. Pria Bali beragama Hindu PDKT sama saya. Hubungan ini sudah hampir enam bulan. Dan mungkin dalam waktu dekat akan menjadi puncak dari semua tanya. Pilihannya hanya ada dua. Dia menjadi mualaf atau sebaiknya kita udahan.
Info yang saya dapat dari rekan kerjanya. Pria Bali ini suka sama wanita berjilbab. Plus ada ketertarikan akan islam. Wah ini berita yang sangat keren sekaligus aneh. Udah tahu Hindu kok suka sama saya yang menutup aurat. Saya makin semangat. Tapi harus bersikap polos tentang hindu de hadapan dia.
"Buka dong" perintah dia dengan nada excited.
Saya merobek bungkusnya. Membuka halaman secara acak. Dan membaca kalimat demi kalimat.
"Jadilah seperti langit yang kaya tetapi seakan tidak memiliki apa-apa. Tampak terbatas namun jelas tanpa batas. Tampak jauh meski seseungguhnya sangat dekat dengan kita. Jadilah langit yang mengawasi tanpa mata, hanya dengan kesadaran-Nya" (W. Mustika)
" Bacanya jangan setengah-setengah !" protesnya
"Iya nanti saya baca semua Bli, tapi kalau saya tidak paham. Boleh tanya-tanya ya?" ucap saya sambil melirik ekspresi wajahnya.
Saya ini wanita. Mungkin benar, wanita memang penuh dengan tipu daya. Dia tida tahu saya sudah membaca resensi buku ini . Dia tidak tahu bahwa saya sudah membeli kitab sucinya.Saya berjanji pada diri sendiri tidak menjelaskan islam kepadanya. Kecuali dia yang bertanya. Pertanyaan adalah tanda seseorang ingin belajar lebih. Caranya harus halus. Tidak boleh kasar. Saya malah kasih dia novel yang ada cerita reinkarnasinya. Biar dia percaya. Kalau saya tertarik dengan Hindu.
Saya memang tertarik dengan hindu. Saya akan mencari persamaan antara Islam dengan Hindu. Al-Quran kitab terakhir yang menyempurnakan kitab sebelumnya. Jadi pasti ada berita kedatangan Rasulallah di semua kitab. Tentu ini biar jadi rahasia diri saya.
Toh belajar kitab agama lain membuat semakin mengenal agama saya sendiri. Yaitu Islam. Agar tidak beragama secara buta. Dengan mencari tahu lewat jari yang membuka halaman demi halaman. Berpikir dan merenung. Kemudian menyakini dengan iman di dalam hati.
Buku "saat semesta bicara" mirip filsafat. Berbicara tentang kematian, kehidupan. Proses penciptaan. Proses perginya ruh dari raga. Dualitas spiritual-material. Khas Hindu. Bahasa Rgveda. Kitab suci umat Hindu. Beruntungnya ada penggalan-penggalan kalimat yang mirip dengan Al-Quran di dalamnya. Ini bisa dijadikan celah untuk berdiskusi.
Saya tidak boleh menyudutkan agamanya. Tetapi menelaah persamaan antara Hindu dan Islam. Dan memberinya kesempatan untuk tahu indahnya bahasa Al-Quran. Kitab yang berisi 1000 ayat tentang ilmu pengetahuan. Kitab yang tidak pernah direvisi dan tidak akan pernah direvisi. Hmmm...Bismillah semoga strategi ini berhasil....

Comments
Post a Comment