Saya laki-laki dan Tidak Bisa Selalu Disini



"Saya laki-laki dan tidak bisa selalu ada disini ". Kata-kata itu Masih terngiang di telingga saya. Apa maksudnya ?

Saya mendorong pria Bali itu untuk keluar dari ruangan. Dia berdiri di dekat pintu dan saya memegang lengan kanannya. Mendorong sekuat tenaga agar uang hadiah darinya masuk ke saku kemejanya.

Saya paling benci menerima uang hadiah tanpa bekerja. Saya tidak suka uang diberikan cuma-cuma. Hadiah terindah bagi saya adalah buku. Menerima uang cuma-cuma rasanya mirip "feel like bitch ". Terlebih kami bukan apa-apa. Tidak ada alasan baginya untuk sering memberi saya hadiah. Apalagi uang. 

Dia tetap memaksa agar menerima. Saya menolak dengan sopan dan tatapan kecewa yang saya dapat.


"No no no" hanya itu responnya. Ketika saya masukan uangnya di saku kemejanya. Tangannya menghalangi saya.

"Please " dia tetap memaksa saya sambil memohon. Saya sungguh tak mengerti mengapa pria ini begitu perhatian. Dan saya wanita yang tidak mudah menerima perhatian. Bukankah semuanya ada pamrih ? Ada maksud tertentu yang saya sendiri masih ragu.

Uang untuk beli makan siang? Sedangkan dia sendiri selalu terlambat makan. Apakah memang dia ada rasa ? Atau hanya perasaan saya saja?

Saya tetap berkeras hati untuk menolak. Mendorong dia sekuat tenaga untuk keluar dari ruangan. Dia tetap bertahan. Tetap memaksa sambil memberi penjelasan. Tubuhnya yang kekar tentu dapat menahan tubuh saya yang jauh lebih kecil. Kepala saya hanya sebatas pundaknya.

Saya mendongak ke arahnya. Tepat menatap matanya. Sambil berdiri di hadapannya dan tetap mendorong tubuhnya. Sepasang matanya yang kecil menatap saya. Indah. Mata itu memancarkan sesuatu. Begitu kuat. Bibirnya dengan suara lembut berkata...

"Saya laki-laki dan tidak bisa selalu ada disini. Di dalam uang ini ada doa"

Saya hanya menjawab asal sambil menatap matanya dan segera menunduk malu.

" Memangnya kenapa kalau Bli laki-laki ?"

Setelah itu dia keluar dan meletakkan uang itu di atas meja. Saya hanya terdiam dan pasrah.

Kembali saya menatap buku yang diberikan. "Saat semesta bicara". Buku itu diberikan bukan tanpa maksud. Seminggu lebih hati saya dibuat gelisah karena buku itu. Dia secara perlahan mengenalkan saya pada agamanya. Dia tahu saya jatuh cinta pada Ubud. Alamnya, suasanya , kebudayaanya.

Waktu itu saya bertanya tentang pura dan sopir bus yang berhenti di tengah jalan untuk berdoa di pura kecil. Dia menjawab dengan panik. Pertanyaan yang muncul tiba-tiba dari saya membuat dia tidak siap. Ada pancaran mata yang tidak nyaman dengan pertanyaan saya. Kejadian itu hampir enam bulan yang lalu.

Kini sikapnya semakin terbuka bahwa dia ingin melindungi saya. Memanjakan saya. Memberikan fasilitas untuk saya. Dia tahu benar cara halus untuk mendekati saya. Apalagi kalau bukan lewat buku. Sebuah cara untuk mendekatkan saya pada Hindu.

Kata-kata itu kembali terngiang di telingga " saya laki-laki dan tidak bisa selalu disini, di dalam uang ini ada doa" .

Ya Allah berikan hamba kekuatan untuk melewati ini semua. Sungguh tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua telah tercatat. Dan semua ini terjadi atas kehendak Mu....




Comments

Popular Posts