Tidak Biasa Dimanja



Tidak biasa dimanja. Itulah sikap saya. Mungkin karena anak pertama. Setelah Papa tidak ada dan saya telah bekerja. Maka tugas saya adalah menjaga Mama serta menafkahinya.

Adik saya hanya satu. Laki-laki dan telah menikah. Dia tinggal terpisah dari kami. Saya hanya tinggal berdua dengan Mama. Sebuah kebahagian bisa menyenangkan Mama. Tidak hanya untuk urusan dapur. Rasanya ada kepuasan batin bisa traktir Mama liburan.

Mandiri dan pekerja keras. Dua hal yang identik dengan saya. Ini juga yang menjadi hal aneh bagi saya. Ketika seorang pria memberi perhatian. Terlebih memberikan fasilitas. tentu saya menolak. Apalagi kami tidak punya hubungan apa-apa. khawatir hutang budi. Tidak terpikir juga untuk memanfaatkan situasi.

Saya semakin resah belakangan. Sikapnya yang semakin terbuka menunjukkan rasa tertarik kepada saya. Untungnya saat ini dia berada di Bali. Sesaat kami tidak komunikasi. Keadaan yang mendukung untuk sementara waktu. Sambil mencerna situasi yang terjadi.

Dia bekerja dan telah mapan sebagai dosen. Usia kami hanya terpaut 7 bulan . Lebih tua dia. Dia anak terakhir dan saya anak pertama. Tak tahu juga kapan perasaan itu mulai tumbuh. Semuanya seperti tiba-tiba. Saya pun mengelak perasaan saya sendiri. Khawatir kalau terlalu GR.

Kami telah sama-sama dewasa. Di usia yang telah siap menikah. Paham menyimpan perasaan satu sama lain. Humor yang mewarnai percakapan kami sehari-hari. Tentang apapun.

Kami sangat berbeda. Penampilannya sederhana. Tidak neko - neko. Jauh dari kesan fashionable. Saya wanita pada umumnya. Besar di Jakarta dan melek fashion. Hidupnya sebagai dosen muda begitu teratur. Setiap hari dipenuhi jadwal kuliah dan persentasi keluar kota. Sedangkan hidup saya penuh dengan spontanitas.

Agama yang menjadi penghalang bagi kami. Dia anak seorang pendeta Hindu. Ayahnya adalah tokoh adat di sebuah desa di Bali. Dia pasti dibesarkan dengan pemahaman agama yang baik. Entah apa yang membuatnya mendekati saya. Mungkin dia tertantang. Menaklukan wanita dengan pemahaman agama yang cukup mapan. 

Saya yakin, di dalam hatinya dia tahu bahwa saya tidak akan berpindah. Sebanyak apapun buku Hindu yang diberikan kepada saya. Tetapi dia seorang pria. Nalurinya menaklukkan. Dia akan terus mencoba. Berkali-kali. Hingga dia sendiri menjadi gamang. Mungkin dia pada akhirnya akan menyerah.

Menyerah untuk mengikuti agama saya. Atau pergi dengan meninggalkan segala keindahan yang saya miliki sebagai wanita. Tentu saya tidak akan diam. Saya akan bermain logika . Tugas saya adalah menunjukkan damainya islam. Hidayah itu hak Allah. Biarka Allah yang menentukan hasilnya. Tuga saya adalah berusaha sebaik mungkin. Mengenalkan islam . Menyampaikan kebenaran...








Comments

Popular Posts