Candle Linght Dinner di Jogja
Candle light dinner di Jogja tidak akan pernah saya lupakan. Di sebuah restoran Italia di sekitar daerah Prawirotaman. Terlebih dînner bareng dengan pria yang belum 24 jam saya kenal. Untung ga perlu lapor pak RT :D.
Shao, seorang pria asal Shanghai China. Usianya 24 tahun. Mahasiswa tingkat akhir jurusan matematika. Kami berdua menginap di hostel yang sama. Namun tidak pernah bertemu satu sama lain. Hari itu hari ketiga di Jogja. Iseng saya booking tour menikmati sunrise di setumbu hills dan borobudur. Ternyata Shao dan saya menjadi teman satu group.
Kami berangkat jam 4 pagi dari hostel. Sekali lagi saya pikir dia orang chinise lokal. Karena tidak ada beda buat saya. Mukanya lokal banget. Saat itu saya cuek saja. Kami baru mulai mengobrol saat di Borobudur. Dia yang menyapa saya. Kami berjalan menyusuri pintu keluar candi borobudur. Sambil bertukar cerita pengalaman backpacking.
Shao telah mengunjungi 12 negara. Sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Kehidupan sebagai anak tunggal dan mendapatkan semua fasilitas tidak membuat dia menjadi manja. Tujuan backpacking karena sebuah "kegelisahan".
Kegelisahan itu dia sebut sebagai "mencari makna hidup ". Sejauh ini negara yang dia suka adalah India. Karena disana dia belajar yoga untuk mencari ketenangan. Shao adalah satu dari sekian juta rakyat Tiongkok yang tidak punya agama. Dia mengikuti hati kecilnya untuk melakukan aktivitas yang membuat jiwanya merasa tenang.
Shao mengajak saya ke candi prambanan sore hari. Sayang sore itu hujan turun sehingga kami hanya berdiam diri di Hostel. Setelah hujan reda, kami memutuskan untuk pergi ke masjid Mataram di daerah kota gede. Dilanjutkan makan malam di daerah backpacker Jogja, yaitu di daerah Prawirotaman.
Duduk berdua dengan meja kecil. Lilin di dalam gelas berada di tengah meja. Menghadirkan suasana temaram. Sangat romantis. Ini pertama kalinya saya datang ke tempat seperti ini. Sayang bukan datang bersama belahan jiwa.
Shao melanjutkan berbagai pertanyaan tentang Tuhan. Tentang mengapa Islam di Indonesia sangat berbeda. Toleran. Tidak seperti di India dan Pakistan. Pertanyaan tentang surga dan neraka. Serta keyakinan bahwa nenek moyangnya akan menjaga dia serta keluarga dengan caranya sendiri.
Sulit baginya untuk mempercayai surga dan neraka. Karena dia tidak percaya Tuhan. Tidak salah. Sungguh dia sangat beruntung. Kelak dia akan menjadi manusia beruntung ketika jawaban dari "does God Exist?" telah dia temukan.
Dia tersenyum mendengar jawaban saya. Tentang Al Quran yang berisi 1000 ayat tentang science. Tapi lebih baik jika dia membandingkan dengan kitab suci lain. Dia seorang yang pemikir. Dan rasa ingin tahu akan membuat dia banyak bertanya serta membaca. Insha Allah kelak dia akan menemukan jawaban. Hidayah itu hak Allah. Tugas saya menyampaikan hal yang benar.
Islam adalah agama yang damai. Jika suka membunuh itu bukan islam. Islam mengharuskan sholat lima waktu . Kalau tidak lima waktu berarti bukan islam. Islam menghormati keyakinan yang berbeda. Karena begitulah Rasulullah mengajarkan. Shao melihat dalam mata saya dan tersenyum. Dia sadar bahwa info yang dia baca di media massa kadang menyesatkan. Setidaknya ketika dia datang ke Indonesia, dia menemukan Islam yang damai.
Candle light dinner berakhir, kami kembali ke hostel dengan naik becak . Tepat jam 11 malam kami sampai. Dînner dengan Shao menjadi oleh-oleh manis untuk saya. Terbesit keinginan "seandainya saya bisa menjelaskan Islam kepada pria Bali Itu". Ah entahlah... Saya kembalikan urusan ini kepada Allah.
Jika memang dia tercipta untuk saya, Allah akan memberikan jalan. Tapi jika tidak, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Saya harus belajar ikhlas. Sulit tapi harus...Ya Allah hamba percaya padaMu..

Comments
Post a Comment