Ikatan Batin Itu Seharusnya Bukan Untuk Saya


Ikatan batin dan firasat itu seharusnya bukan untuk saya. Kurang lebih selama satu bulan hidup saya tidak tenang. Hampir setiap malam hati saya gelisah. Seperti ada sesuatu yang salah. Malam hari tiba-tiba terjaga dari tidur. Biasanya jam satu atau dua dini hari. Mendadak bangun dan merasa panik. Khawatir terjadi sesuatu dengan dirinya. Siapa lagi kalau bukan pria Bali itu.

Kami jarang sekali berkomunikasi. Tapi kenapa saya punya kontak batin begitu kuat ? Firasat yang saya rasakan benar adanya. Ketika dia terluka. Saya bisa merasakan. Ketika dia sakit, saya juga bisa rasakan. Aneh. Karena hubungan kami tidak jelas. Tidak pernah ada kata-kata yang secara lugas. Bahwa dia mempunyai rasa kepada saya. Tapi dari pujian, tindakan serta cara dia menatap saya semuanya jelas. Tidak bisa disembunyikan. Dia menyimpan rasa.

Namun belakangan, sikapnya berubah. Saya mencoba menghubungi via whatsapp. Semua message saya selalu dibalas. Tapi seadanya. Secukupnya. Tanpa dia berusaha untuk menanyakan kabar saya. Berubah menjadi dingin. Sikapnya mendadak berubah!

Lalu apa artinya kontak batin dan firasat yang saya miliki. Rasanya tidak fair. Saya bisa merasakan apa yang terjadi padanya. Tapi apa dia juga merasa hal yang sama ? Sudahlah, lebih baik diabaikan saja. Mungkin hanya perasaan yang terlalu sensitif.

Hingga suatu malam, saya begitu gelisah. Tidak bisa melupakan dia. Teringat dengan jelas wajahnya. Malam sudah larut dan semakin larut. Saya berusaha keras memejamkan mata. Hingga tiba-tiba seperti mendengar bisikan dengan jelas. Pesannya jelas. Bisikan itu untuk berpindah agama.

Spontan lidah saya berkata " aku ga bisa pindah Bli, ga bisa"

Saya mengucapkan kata itu berkali-kali sambil memegang dada. Rasanya sakit sekali. Setelah itu saya berdzikir. Menarik nafas panjang dan minta perlindungan Allah. Kejadian serupa terjadi pada siang hari. Ketika saya sedang fokus input data di komputer. Sebuah bisikan ajakan untuk berpindah agama.Spontan bibir saya mengucapkan hal yang sama.

"aku ga bisa pindah Bli, ga bisa"

Nafas saya memburu, terengah-engah sambil memegang dada. Rasanya sakit sekali.

"Ok cukup" batin saya berkata. Harus segera diselesaikan. Saya tidak mau semakin stress. Tentu merasa sangat tidak nyaman. Saya mau melanjutkan hidup. Tenang dan normal tanpa gangguan semacam ini.Saya harus segera berbicara dengannya. Kontak batin dan firasat belum lagi bisikan-bisikan itu sangat mengganggu.

Akhirnya senin kemarin saya berbicara dengannya lewat telepon. Tentu saya mencari tahu apa maksud firasat dan ikatan batin ini? Ketika saya bertanya, ternyata dia tidak mengalami hal yang sama. Dengan lugas dan bahasa yang santai, saya meminta dia untuk berdoa.

"Bli, saya minta Bli berdoa untuk saya. Agar ikatan batin dan firasat ini tidak ada lagi. Saya terganggu dan stress"

Dia menjawab dengan santai, ramah dan tenang. Tentu saja, saya tidak berbicara secara terbuka mengenai bisikan itu. Namun saya yakin betul. Dia paham yang terjadi. Saya berbicara baik-baik dengannya. Agar tidak tersinggung dan malah mengirim saya hal gaib lainnya.

Saya semakin mendekatkan diri kepada Allah. Meminta tolong kepada Allah, jika memang yang terjadi pada saya adalah sihir. Maka saya memohon perlindungan. Saya membentengi diri dengan sholat hajat, mengaji serta membaca Al Ma'tsurat agar terhindar dari sihir.

Insha Allah, dengan mendekat kepada Allah. Hal-hal semacam itu akan kembali kepada si pengirim. Hanya Allah yang dapat melindungi saya. Sungguh saya akan menjaga diri untuk menjadi muslim hingga ajal menjemput.

Ini semua ujian. Ketika usia saya tahun ini beranjak 33 justru pria non muslim yang mendekat. Saya tidak perduli motif apapun yang disimpan pria Bali itu. Tapi agama adalah harga mati untuk saya. Sikap tegas telah saya ambil. Menghubungi dia untuk mencari jawaban. Apapun jawaban yang dia berikan tidak penting untuk saya. Karena saya ingin "bisikan pindah agama " segera pergi.

Tentu saya takut luar biasa. Belum pernah mengalami kejadian mistis seperti ini. Allah akan menjaga saya, selama saya mendekat dan pasrah kepadanya.

Hubungan baik saya dengan pria Bali itu harus tetap terjaga. Terlepas dia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Dari sini saya dapat ambil kesimpulan. Sikapnya tidak dewasa. Terlepas dari usianya yang sudah 33 Tahun.

Semoga kisah ini dapat memberi pelajaran bagi semua. Terutama bagi saya sendiri. Perjalanan menemukan cinta sejati kadang tidak mulus. Tapi tetap berprasangka baik kepada Allah. Sekali lagi ikatan batin itu seharusnya bukan untuk saya.

Comments

Popular Posts