Sahabat Saya Telah Menemukan Calon...
Sahabat saya telah menemukan belahan jiwanya. Baik Mia maupun Mitha, keduanya sedang menjalin hubungan dengan pria. Walaupun ada kendala di dalam hubungan tersebut. Setidaknya mereka sudah ada "calon". Sedangkan saya ? Masih belum mendapatkan "calon".
Saya tidak sedih yang gimana-gimana. Tapi ada rasa rindu ketika seseorang memperhatikan saya. Selama ini kalau backpacking hanya Mama yang khawatir. Kapan ya ada pria yang mengkhawatirkan saya.
Saya bukan wanita lebay yang bakal minta diantar kesana sini. Kan sudah terbiasa mandiri. Tapi tentu fitrah sebagai manusia yang diciptakan berpasangan akan mencari belahan jiwanya.
Kondisi hati tentu up and down. Kadang semangat hidup dalam pencarian. Tapi kalau malam tiba rasa galau mulai menghantui. Padahal malam hari waktu yang sangat saya nantikan untuk membaca dan menulis.
Rasa nelangsa kadang datang tiba-tiba. Membuat hati saya berubah menjadi hampa dan merasa sendirian. Tanpa sadarpun saya menangis.
Kalau sudah begini harus banyak istighfar. Mengingat Allah dan tetap berbaik sangka kepada Allah.
Menghadapi sahabat yang telah punya calon harus santai. Karena kita juga pada waktunya akan bertemu dengan si dia.
Mia dan Mitha malah sering curhat mengenai hubungan mereka. Hubungan Mia terkendala restu dari Ibu. Sedangkan Mitha didera rasa khawatir apakah dia bisa melanjutkan studi master dengan pendapatan calon yang hanya "segitu".
Sebagai sahabat mereka, saya harus memberikan masukan yang objektif. Tentu ada rasa kehilangan dari jika mereka nantinya menikah. Saya jadi sendirian. Tapi untungnya selama ini senang backpacking sendirian juga. Jadi pada dasarnya mudah beradaptasi. Adaptasi saat sendirian maupun ada teman.
Sahabat memang lebih dari sekedar teman. Tapi cepat atau lambat masing-masing akan memiliki keluarga sendiri. Akan berpisah dan fokus pada kehidupan sendiri.
Pasangan hidup kita nanti yang seharusnya menjadi sahabat untuk kita. Dialah yang akan menjadi prioritas. Bukan berarti setelah menikah kita tidak bergaul ya. Bergaul sih tetap, namun ada skala prioritas. Dan tidak semua urusan rumah tangga kita ceritakan kepada sahabat. Karena kita sebagai istri wajib menutupi aib suami.
Saya turut berbahagia untuk kedua sahabat. Mia dan Mitha. Saat ini posisi saya mirip sebagai konsultan bagi mereka berdua. Mendengarkan keluh kesah mereka tentang pasangan. Sambil sesekali saya bertanya dalam hati.
Kapan saya punya calon.Sering saya menatap langit dan berbicara pada Allah. "aku percaya pada Mu ya Allah, pria itu sudah Kau siapkan bagi Hamba".
Kalau kamu menghadapi situasi serupa dengan saya harus berbesar hati ya. Rasa "iri" karena sahabat sudah punya calon pasti ada. Tapi yakinlah bahwa "calon" mu sudah disiapkan Allah. Semua masalah waktu.
Tetap beri masukan yang baik kepada sahabatmu. Dukung hubungan mereka agar segera menjadi halal dan legal. Semua akan indah pada waktunya. Giliran kamu insha Allah ada :)

Comments
Post a Comment