Menikah 18 Tahun Tanpa Cinta
Menikah 18 tahun tanpa cinta. Semua berawal dari menerima perjodohan tanpa pertimbangan. Mbak Shinta menceritakan secara tegar. Ibu dari lima orang anak laki-laki bertutur tentang kehidupan dalam pernikahan. Raut wajah yang lelah dan penuh dengan kemarahan saat menceritakan kepada saya.
"Nasi sudah menjadi bubur mbak, Ibu saya begitu menyesal setelah tahu sendiri laki-laki yang dipilihnya untuk saya"
Mbak Shinta sudah menahan selama 18 tahun demi anak-anak. Sebenarnya dahulu dia telah memiliki pacar. Namun sayang pacarnya saat itu masih sama-sama kuliah dan belum siap menikah. Dia sendiri ditarget untuk segera menikah. Pacaran yang terlalu lama menyebabkan gunjingan para tetangga dan kerabat. Orang tua beliau yang akhirnya gerah dan meminta agar segera menikah.
Lambat laun situasi semakin menyudutkan dirinya. Akhirnya dia menyerah karena merasa lelah. Apa susahnya menikah untuk menyenangkan Ibunda. Saat itu pikirannya sangat sederhana. Tidak pernah berpikir jauh bahwa menikah adalah komitmen seumur hidup. Tentu bukan berjalan satu dua hari. Tidak juga terbayang pernikahan tidak sesederhana yang dia pikirkan.
Dia tidak pernah tahu persis Background sang suami. Satu hal yang dia tahu, laki-laki itu frustasi dengan hubungan sebelumnya. Singkat kata keduanya menikah tanpa ada rasa cinta.
Cinta tidak pernah tumbuh selama 18 tahun. Mereka terikat status diatas kertas. Secara fisik tinggal di rumah yang sama. Namun hati keduanya tidak pernah berada di dalam rumah. Sikap yang dingin satu sama lain. Jangan bayangkan ada romantisme di dalamnya. Justru kata-kata kasar dan merendahkan harga diri sebagai wanita yang dia dapatkan.
Harap dicatat, beliau bukan pengangguran. Mbak Shinta seorang dokter dan memiliki klinik pribadi. Kliniknya terbilang sukses. Semua dia bangun tanpa ada bantuan dari sang suami. Malah suaminya mencibir bahwa klinik tersebut tidak akan menghasilkan dan tidak akan pernah bisa besar.
Urusan keuangan juga tidak pernah terbuka satu sama lain. Suami yang bekerja sebagai kontraktor mengelola uang yang didapatnya sendiri. Dia memberikan uang untuk kelima anaknya seadanya. Tidak mau tahu cukup atau tidaknya.
Mbak Shinta berpesan pada saya dan Mia agar tidak mengalami hal yang sama. Jangan pernah mau menerima perjodohan jika kamu tidak merasa sreg. Jangan pernah korbankan kebahagiaan pribadi demi orang tua atau keluarga besar. Karena pernikahan itu kalian yang menjalani.
Pernikahanya selama 18 tahun akan segera diakhiri. Dia ingin menunggu selama lima tahun, sampai anak yang paling kecil memasuki usia yang cukup. Mbak Shinta selama ini bertahan hanya demi anak-anak.
Sulit rasanya mencerna semua yang diungkapkan beliau. Saya pikir selama ini pernikahannya baik-baik saja. Namun dibalik sikapnya yang tegar tersimpan prahara dalam rumah tangga.
Perjodohan bukan hal yang buruk. Selama kamu merasa sreg dan ada rasa suka dengan si dia. Kalau tidak ,jelas akan susah. Pernikahan bukan untuk coba-coba. Karena menikah karena terpaksa tidak akan bisa menimbulkan benih cinta. Setidaknya pernikahan Mbak Shinta selama 18 tahun menjadi pelajaran untuk kita semua.

Comments
Post a Comment