Lebih Beruntung Dibanding Dua Sahabat Saya
Saya lebih beruntung diantara dua sahabat. Mia dan Uci. Siapa yang tidak punya masalah finansial. Setiap orang mengalami. Tentu dengan kadar kesulitan yang berbeda.
Uci punya rumah sendiri. Rumah warisan dari Ibundanya. Kedua orang tuanya tinggal dengannya. Otomatis, uci menanggung biaya hidup keduanya. Ibunya menderita kanker rahim stadium tiga. Keterbatasan biaya membuatnya memilih pengobatan alternatif, yaitu Herbal. Gaji tiap bulan hanya mampir. Selebihnya langsung habis untuk kebutuhan hidup. Saya tidak bisa membayangkan jika menggantikan posisi Uci. Rasanya tidak sanggup.
Sahabat saya yang kedua Mia. Dia masih punya orangtua lengkap. Ibunya memiliki karakter keras. Seringkali mendesak Mia agar segera menikah. Beberapa kali Ibunya menjodohkan. Sayang semuanya berakhir dengan kegagalan. Sebenarnya Mia telah punya pilihan. Namun Ibunya tidak setuju. Saya sendiri sebagai sahabatnya juga khawatir akan pilihannya. Duda anak satu, dengan pekerjaan yang belum mapan. Drop Out pula.
Saya tidak memandang rendah pria non gelar. Gelar bukanlah segalanya. Tidak ada jaminan pria yang pernah kuliah akan lebih baik hidupnya. Tetapi jika pria tersebut punya wawasan dan pergaulan yang luas layak dipertimbangkan. Kekhawatiran saya berlanjut setelah tahu bahwa Mia kenal dengan pria tersebut sejak lama.
Saat dia masih berstatus istri orang. Pikiran saya jadi macam-macam. Khawatir kalau Mia secara tidak langsung penyebab perceraian. Dari segi finansial, Mia juga harus menghidupi kedua orangtuanya. Terlebih gaya hidup Ibunya dengan dengan gengsi yang tinggi.
Saya ? Papa saya telah berpulang ketika saya 18 tahun. Saya hanya tinggal berdua dengan Mama. Saya menafkahi Mama. Tentu saya juga punya kesulitan finansial. Saat Mama sakit, tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Tapi saya beruntung dibanding Mia dan Uci.
Saya masih bisa Travelling. Pergi bebas untuk keluar dari rutinitas sejenak. Masih punya hobi. Bisa menekuni dunia menulis. Gaji di kantor, Alhamdulillah cukup. Sering juga ada proyek-proyek kecil yang hasilnya bisa saya simpan. Saat ini saya fokus saving untuk membuka rumah baca. Merenovasi rumah Mama, agar nyaman dan rapih untuk menata buku. Minta doanya ya.
Minggu lalu saya sangat stress. Jenuh di kantor, tidak merasa tenang di rumah. Rindu rumah dalam versi saya. Seperti ketika pergi ke Jogja atau Ubud, saya merasa pulang. Dua kota itu yang saya sebut rumah. Terutama Ubud. Rasanya ingin sekali pindah dan tinggal disana.
Saya sayang Mama. Namun menjadi anak baik terkadang melelahkan. Terkadang orang tua punya banyak keinginan yang dibebankan kepada anak-anaknya. Obesesi yang dulu tidak tercapai. Secara halus dipaksakan kepada anaknya agar diwujudkan. Hal itulah yang saya alami. Bukan, sekali lagi bukan saya tidak sayang Mama. Namun ada kondisi yang begitu lelah.
Efeknya, secara fisik saya jadi mudah lelah. Stress yang tidak kunjung henti membuat emosi saya naik dan turun. Pekerjaan saya tidak produktif. Saya ingin hidup sederhana. Rumah mewah dan kendaraan wah bukan keinginan saya saat ini. Saya hanya ingin rasa tenang. Bukan hidup mengumpulkan materi dan saling pamer.
Materi penting. Siapa yang tidak butuh uang ? Apalagi muslim dituntut untuk kaya. Saya setuju. Kita harus punya materi yang melimpah. Namun tetap hidup sederhana.
Kalau sudah begini. Saya menghindari Mama. Lebih banyak diam. Dan menghindar dari obrolan yang terlalu dalam. Saya menarik diri.
Banyak bersyukur itulah yang saya renungkan. Harus bersyukur karena kondisi saya lebih baik dari dua sahabat. Saya punya hobi yang bisa ditekuni. Punya banyak teman. Saya sering dapat hadiah dari klien. Entah itu coklat atau buku.
Setidaknya juga, Mama tidak pernah panik di usia saya ke-33 belum menikah. PR besar bagi saya. Tapi Insha Allah semua akan indah pada waktunya. Saya percaya Allah.

Comments
Post a Comment