Saya 33 Tahun


Sepuluh Maret usia saya beranjak 33 tahun. "Selamat datang di usia 33" ucap hati kepada diri sendiri. Saya tersenyum menatap wajah di cermin. Mature. Kulit sehat. Mata bercahaya. Tanpa keriput. Masih single. Dan masih mencari belahan jiwa. Tentu saya tidak akan menyerah. 

Kemana saya selama ini ? Jarang update Blog ? Saya mohon maaf karena jarang menulis di Blog ini. Saya mengejar impian untuk menjadi penulis. Bulan lalu saya ikut lomba menulis cerpen Asma Nadia. Terlepas apakah saya akan menang atau tidak. Rasanya senang bisa mengumpulkan naskah di hari terakhir. Saya sangat terlambat mengetahui lomba tersebut. Dua hari menjelang Deadline, saya baru tahu. Dengan segenap tenaga dan usaha, Alhamdulillah bisa memasukkan naskah juga. Lega.

Kegiatan lain adalah, saya menulis di kompasiana. Blog rame-rame yang jadi ajang belajar menulis untuk saya. Cerpen pertama saya di kompasiana dibaca 600 orang. Tentu luar biasa senang rasanya. Akhirnya saya memutuskan untuk menekuni menulis cerpen. Banyak hal teknis yang harus dipelajari. 

Kenapa cerpen? Cerpen adalah cerita fiksi. Namun justru cerita  fiksi adalah landasan untuk menulis. 
Ada banyak kegelisahan di hati yang saya ingin tulis. Apapun itu. Menulis itu membebaskan. Dan semoga informasi yang saya tulis bisa menjadi penyegaran. Bisa jadi ladang baik bagi saya untuk berbagi cerita yang bisa diambil manfaatnya. 

Banyak kisah yang belum saya tulis. Kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Kisah cinta yang selalu tidak ada habisnya. Pernikahan, perceraian, perselingkuhan hingga menemukan cinta sejati. Saya saksi dari insan yang terlibat. Mungkin sudah menjadi takdir bagi saya untuk menulis kisah tersebut. Agar saya dan kita semua bisa belajar.

Menulis butuh keberanian. Itulah yang coba saya lawan. Menulislah ! Terlepas banyak tidaknya yang membaca apa yang saya tulis. Karena semua hal butuh jam terbang. Termasuk menulis. 

Pekerjaan saya di kantor ? Baik-baik saja. Walaupun otak saya yang agak kurang baik. Deadline pekerjaan yang menumpuk. Persiapan seminar tahunan di bulan april. Semua begitu menyita waktu. Belum lagi harus menemui klien yang kadang bikin naik darah. Itulah resiko pekerjaan. Harus bersyukur karena saya punya pekerjaan. Banyak yang masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. 
Rasa jenuh, malas, bosan dan stres adalah makanan sehari-hari. Ingin rasanya melepaskan penat. Berusaha kembali memaknai hidup. Untuk apa? Untuk siapa ? Apa harus begini dan seterusnya... 

Kisah cinta saya ? Pria Bali itu tetap menghantui. Belum lama, dia datang kembali ke kantor. Tetap perhatian. Tetap gemes lihat saya sampai pengen "jitak" kepala. Dan tetap akan membawakan saya buku "spiritual". Matanya tetap berbinar ketika menatap. Sama seperti dulu. Tapi saya sudah berjanji pada diri sendiri harus move on. 

Saya tidak ingin kelihatan dekat dengan dia. Apalagi saya tidak melihat ada harapan antara saya dan dia. Saya menghormati keyakinannya. Dan tidak ingin dia berpindah hanya untuk menikahi saya. No Way! Sebisa mungkin menjaga sikap dengannya. Agar ketika ada pria lain yang mendekat tidak ragu. Bahwa saya beneran single :) 

Comments

Popular Posts