Apa Kabar Luka Hati ?
![]() |
| Setumbu Hills, Jogja, December 2015 |
Ketika membuka mata di pagi hari, saya langsung teringat wajah pria itu. Membawa saya pada kejadian dua bulan yang lalu. Senyum ramah yang saya balas dengan wajah flat. Saat dia memberikan cd dokumentasi seminar. Tampaknya dia ingin ngobrol , tapi saya malas. Untung dia segera pergi. Dan saya cuek. Setelah dia keluar dari ruangan. Saya menatap langit dari balik jendela. Bertanya dimana Allah ? Air mata menetes dengan rasa sakit hati luar biasa. Kejadian itu sekitar bulan Mei lalu.
Dijadikan pelarian, itulah status saya. Hari ini dia masih berusaha untuk membuka komunikasi. Tapi cukup, dia tidak akan mendapat kesempatan itu. Sekarang statusnya suami orang. Dia pikir, saya tidak tahu tentang pernikahannya yang disembunyikan. Saya menjauh, menghindar. Butuh waktu untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Butuh keberanian untuk menulis kisah ini.
Saya tidak marah ketika wajahnya tiba-tiba hadir. Saya tidak mengusir kenangan yang tiba-tiba muncul. Semua saya terima dengan sadar. Semua kejadian itu akan menjadi bagian dari kehidupan. Bayangan masa lalu itu hadir di sebelah saya. Berjalan beriringan. Hingga suatu saat nanti dia akan berdiri di belakang. Dan pada saat itu saya akan tersenyum mengingat lukaitu . Hari ini saya harus bertahan. Badai pasti berlalu. Luka ini akan sembuh oleh waktu.
Mungkin dia akan menderita oleh perjodohan. Tapi apa peduli saya? Dia yang memilih. Dia dengan takdir yang dia pilih. Saya dengan pilihan untuk pergi. Mengawali hari dengan senyuman di meja rias. Menyapa diri dan meyakini bahwa semua akan baik-baik saja. Tetap bekerja seperti biasa. Bertemu dengan banyak klien. Menjawab telepon. Membalas e-mail. Memberikan solusi untuk ini dan itu. Menanggapi semua komplain. Hingga petang menjelang.
Ménikmati matahari tenggelam dalam perjalanan pulang. Warna oranye penuh dengan kehangatan. Iya, suatu hari nanti saya akan nikmati dengan seseorang. Biarlah saat ini sendiri. Memasuki rumah disambut Mama. mengobrol sejenak hilangkan penat. Mandi, sholat dan mengaji. Saya menghabiskan malam dengan banyak membaca dan menulis.
Luka itu belum sepenuhnya sembuh. Masih ada air mata. Tapi tidak lagi seperti dulu. Saya tidak akan berpura-pura kuat. Tidak akan berpura-pura sembuh. Semua butuh proses dan waktu. Luka itu masih ada. Sakit itu nyata. Merasakan sakitnya sambil menghadapi hari demi hari. Semuanya normal, kecuali hati saya.
Saya harus bertahan....menunggu waktu untuk menyembuhkan...pelan tapi pasti...


Comments
Post a Comment