Membuka Diri




Setumbu Hills, Jogjakarta, My Own 

Membuka diri ? Apa susahnya? Susah banget buat saya. Memang selama ini ga membuka diri ? Membuka diri dalam dunia nyata. Tapi tidak dalam dunia maya. Kenapa tiba-tiba membuka diri di dunia maya ? Untuk mengalihkan perhatian. Yup, sesederhana itu.

Saya akhirnya memutuskan mudik ke Madiun. Setelah tiga lebaran tidak pulang. Hanya satu malam. Sisanya saya menghabiskan waktu di Jogjakarta. Tepatnya lima hari. Fase menyembuhkan luka memang butuh waktu. Lama atau sebentar sangat relatif. Yang pasti saya tidak mau diganggu. Apalagi mendengar namanya atau apapun yg terkait dengan dia. Untuk sementara waktu, saya alergi apapun yang berbau Bali.

Tepat hari lebaran. Dia, mengirim ucapan lebaran kepada saya. Kalimat panjang dan puitis. Diakhiri dengan namanya dan keluarga. Pria yang menyembunyikan pernikahannya. Dan menjadikan saya sebagai pelarian dari Perjodohannya?

Ucapan darinya sempurna merusak mood saya. Tapi saya masih bisa menahan diri. Harus kontrol emosi. Dan tentu butuh mengalihkan perhatian. Sudah sekian lama saya tidak memperbarui picture profile di facebook. Tidak lama kemudian, saya upload foto terbaru. Hasilnya ? Alhamdulillah, banyak teman yang akhirnya menyapa. Silaturahmi terjalin. Membuat saya tersenyum lega. Kangen juga sama teman sekolah dan kuliah.

Cara tersebut lumayan berhasil. Bisa mengabaikan rasa sakit oleh pria itu. Apakah hari saya lancar ? Hmmm, hari berikutnya ketika saya di Jogja, seorang rekan kerja memberikan ucapan selamat lebaran. Sebut saja bunda. Tiba-tiba bunda bertanya tentang pria tersebut. Pria itu memang dekat dengan bunda. Dan bunda tahu persis kalau dia ada rasa dengan saya. Tapi bunda lupa, dia hanya merasa kasihan dengan pria tersebut. Hidupnya menderita karena Perjodohan. Bunda lupa, bagaimana hati saya terluka karena dijadikan pelarian.

Saya menjawab pertanyaan bunda seadanya. Singkat dan malas membahas panjang lebar. Untung bunda tidak bertanya lebih jauh. Saya ingin move on. Menata hati. Mencoba memaafkan tapi sangat sulit. Ucapan lebaran dari pria itu, hanya saya jawab dengan satu kalimat pendek. Diakhiri dengan émotion smile. Padahal tangis dan miris di hati.

Waktu yang akan menyembuhkan. Saya tahu benar. Dan membuka diri adalah cara baik untuk bertemu orang baru. Untuk pertama kalinya saya memasang foto diri di profile WhatsApp. Profilé di blog ini pun juga. Juga profile di kompasiana. Sudah saatnya saya membuka diri. Walaupun itu sulit.
Menulis blog yang berisi tentang cerita diri sesuatu yang tidak mudah. Terlebih urusan yang sangat sensitif. Tapi saya ingin berbagi. Ada banyak wanita diluar sana yang memiliki cerita seperti saya. Dan saya tidak sendiri.

Saya berterima kasih untuk pengunjung setia blog ini. Walaupun kalian tidak pernah berkomentar. Tapi kalian selalu kembali untuk membaca. Saya mohon maaf beberapa bulan ini jarang update, dikarenakan kesibukan pekerjaan. Tapi diluar itu. Butuh waktu untuk menulis luka di dalam blog ini.
Menulis dan berbagi itu menyembuhkan. Dan saya yakin waktu benar-benar akan menyembuhkan. Saat ini saya harus bertahan hingga badai ini berlalu. Skenario indah sudah menanti. Dan Allah Maha Menepati Janji.

Comments

Popular Posts