Where Am I?




Taman Sari Jogjakarta, Lebaran 2016

Where Am I? Saya masih disini. Berputar dalam lingkaran hati yang belum usai. Banyak yang ingin saya tulis. Banyak yang ingin saya sampaikan. Sebuah senyuman yang menggetarkan hati. Tatapan yang membuka luka lama. Perjalanan yang membawa saya ke titik baru. Hingga saya berani menyimpulkan, bahwa saya harus bertahan. Bertahan dan menyakini bahwa badai ini akan berlalu. Rasa sakit ini akan diganti. Ada rencana indah di balik semua ini. Karena Allah Maha Menepati Janji...

Untuk kesekian kali. Air mata itu berurai kembali. Entah apa yang saya tangisi. Binggung rasanya mendefinisikan. Bahagia karena saya tetap menjadi muslim hingga hari ini. Atau sedih karena saya mengulangi kebodohan. Ada masa saat saya mencari pembenaran. Bertanya dan berbicara kepada banyak orang. Did i get the answer? No, Never. Sesungguhnya hati kecil kita telah menjawab. Tetapi sering kali kita abaikan. 

Butuh waktu lama agar saya sadar. Butuh waktu bagi saya mencerna semuanya. Satu demi satu. Perlahan. Terkadang ada rasa malu. Malu kepada Allah, karena masih terbesit rasa sayang untuk pria tersebut. Tapi berkali-kali saya menjerit dalam hati, beruari air mata, memeluk Al-Quran, dan berkata dalam senyap

" Allah aku memilihmu, bukan pria itu dengan keimanan berbeda dan harta yang dia miliki"

Apakah mudah melupakan seseorang yang hingga hari ini masih harus bertemu? Bekerja dalam satu team. Luka itu rasanya akan butuh waktu untuk sembuh. 

Hari ini saya sadar, saya tidak perlu mengusir semua kenangan itu. Berusaha keras melupakan. Kenangan itu akan tetap ada disamping saya. Berjalan beriringan. Saya tidak perlu berpura-pura kuat. Saya akan menangis, jika tidak sanggup menahan semua rasa yang harus saya lepas. Air mata akan membuat saya kuat. Menangis bukan sesuatu yang buruk. 

Saya harus bertahan. Semua ini adalah sebuah badai. Badai yang tentu saya akan mampu melewati. Tidak sedikitpun saya berburuk sangka kepada Allah. Tentu ini cara Allah untuk menyelamatkan saya. Menguji keimanan . Patah hati adalah cara Allah untuk menggerakkan hati dan kaki kita ke arah yang benar. Mudah? Sama sekali tidak. 

Saya percaya Allah. Apa yang terjadi atas ijin-Nya. 

Butuh keberanian untuk menulis semuanya disini. Karena semuanya akan membuka kenangan dan luka lama. Tapi saya percaya, menulis adalah obat mujarab. Dan satu hal yang paling penting, setiap kesulitan ada dua kemudahan. 

Comments

Popular Posts