Mantan Sepuluh Tahun Yang Lalu


Sebuah notifikasi masuk ke dalam e-mail saya. Rupanya dari Facebook. Permintaan pertemanan. Siapa ya ? Pikiran saya mulai merayap. Hari itu, Sabtu malam tanggal 8 Oktober 2016.

Sebuah nama ada dalam notifikasi itu. Seorang laki-laki yang membuat saya menangis hebat. Memutuskan untuk pergi dari rumah dan memilih kost. Saat saya tahu dia menikah.

Sepuluh tahun berlalu. Tiba-tiba dia datang kembali. Permintaan pertemanan tidak langsung saya approve. Tentu saja saya akan approve. But the big question is " Mau apa dia ? "

Sebuah foto menggambarkan dengan jelas. Foto dirinya bersama istri dan dua orang anak. What a Perfect family.  It Shows that his Life is Wonderful. Perfect Life With Perfect job. He works in oil Company.

Rasa khawatir menjalar begitu hebat malam itu. Pria masa lalu datang kembali menyapa setelah sepuluh tahun berlalu. Lemas rasanya. Jadi wanita single itu bukan urusan mudah. Apalagi kalau pria beristri memberikan perhatian. Wah... Harus segera jaga jarak. Waspada siaga satu. Jangan sampai jadi orang ketiga.

Dulu saya memang ada rasa. Dulu sekali. Saat usia saya 23 tahun. Masih naif. Polos dan tidak tahu apapun soal pria.  Jatuh bangun menyembuhkan diri hingga akhirnya dapat dilalui.

Setelah saya approve. Langung ada 3 message masuk. Spontan saya balas. Dan ternyata dia sedang online. Kami chat sebentar. Dia meminta nomer dan menelpon tidak lama kemudian. Sayang saya repot sekali siang itu. Akhirnya kami akhiri percakapan lalu berjanji mengobrol di lain waktu.

Dua hari kemudian, sekedar basa-basi dan agar lebih sopan, saya menyapa duluan via whatsapp.

"Lo masih di Riau?"

"Masih. Sabtu besok gue baru balik "

"Minggu lalu gue baru dari Jakarta "

"Sering ?"

"Lumayan, soalnya kantor pusat gue di Menteng"

"Nah, mampirlah. Kabarin gue kalau lo pas di Jakarta. Kita makan siang "

"..."

Begitu mudahnya dia mengajak saya lunch. Tanpa ada rasa canggung sama sekali. Tentu saja tidak perlu berpikir dua kali. Cukup saya akhiri percakapan tersebut dengan kata Insha Allah dan pamit untuk makan.


Saya bersyukur bisa melewati masa itu. Ketika hati saya hancur berantakan. Ketika tiba-tiba dia hadir. Rasanya biasa. Flat. Tanpa rasa. Dia yang dulu begitu Berarti, sekarang bukan apa-apa. Alhamdulillah...

Hidup penuh dengan ujian. Termasuk ujian iman sebagai seorang muslim. Semuanya harus dihadapi dengan ikhlas. Tidak mudah. Air mata yang tumpah kala hati lelah. Rasa takut yang amat sangat. Sedih yang rasanya tidak berujung. Alhamdulillah saya telah melaluinya.

Saya yakin. Selalu yakin. Bahwa jodoh saya telah ada. Tidak akan tertukar. Allah yang akan menuntunnya untuk menemukan saya.

Comments

Popular Posts