Aku Akan Mencari Kebahagiaanku Sendiri
"Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri... "
Saya tinggalkan percakapan via whatsApp itu tanpa komentar. Usianya 30 tahun. Berasal dari keluarga berkecukupan.Setelah lebaran lalu, dia memutuskan untuk menikah dengan seorang duda. Pernikahan kedua yang dilaksanakan dengan sederhana.
Keduanya bertemu melalui online dating lokal. Seminggu setelah berkomunikasi intens. Sang pria memutuskan terbang ke Surabaya. Teman saya, Ami menjemputnya di bandara Juanda bersama putrinya yang berusia 3 tahun.
Doni seorang duda cerai tanpa anak. Tentu dia tidak keberatan menerima Ami dengan putrinya. Semua berjalan singkat dan cepat. Jatuh cinta yang begitu hebat. Mabuk asmara melanda berat. Plus pertengkaran yang tidak dapat dihindari. Toh keduanya memutuskan untuk menikah.
Selama menjadi teman curhat Ami. Ada yang mengganjal di hati. Saya tahu, Ami yang berprofesi sebagai dokter menerima Doni. Laki-laki yang menjadi staff admin di kampus FK (Fakultas Kedokteran). Awalnya saya merasa takjub. Namun pada akhirnya ketika Ami mulai membandingkan salary Doni dengan dirinya, saya mulai bertanya-tanya.
Kalau memang materi menjadi ketakutan terbesar kenapa menerima Doni ? Ami berasal dari keluarga berkecukupan. Dia mulai mengeluh sulitnya mencari uang di Jakarta. Berangkat pagi buta menuju tempat kerja. Menghadapi kemacetan. Kebisingan jalan. Dan dia harus berjuang keras untuk berhemat. Mengeluh tidak bisa beli ini dan itu. Dan kekhawatiran mulai melanda. Sampai kapan dia berada di situasi seperti ini. Padahal baru beberapa bulan saja.
Saya merenung. Terdiam dan teringat kehidupan saya di masa lalu. Saat saya masih kuliah. Sering kali menahan lapar. Uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos pulang. Tidak satu dua bulan. Malah hitungan tahun. Namun semua berlalu. Masa itu telah menjadi masa lalu. Setiap kesulitan akan ada dua kemudahan.
Pertengkaran demi pertengkaran dihadapi Ami dan Doni. Bagi saya, keduanya dalam masa adaptasi. Namun, Ami terkadang mengambil keputusan sesaat. Emosi meletup dan memutuskan untuk keluar dari rumah...
Menikah untuk kedua kalinya tidak serta membuat seseorang menjadi lebih dewasa. Saya hanya pihak luar yang dijadikan teman curhat. Saya hanya seorang teman yang tidak punya hak untuk masuk ke dalam urusan rumah tangga seseorang. Hanya nasihat yang mampu saya berikan. Selebihnya, mengambil pelajaran dan membagikan lewat catatan ini. Agar saya dan kita semua bisa merenung. Apa yang kita cari dari ikatan pernikahan ?

Comments
Post a Comment