Kesetiaan Dibalas Dengan...


Seorang perempuan menanti suaminya pulang kerja. Kedua anaknya telah dimandikan. Rapih dan wangi. Meja makan penuh dengan makanan kesukaan suami. Tidak ada mainan yang berserakan. Rumah begitu tertata sejauh mata memandang. Tidak perduli tangannya menjadi kasar. Yang terpenting hati suaminya senang.

Setiap menit, perempuan itu memandang jam dinding. Jarum jam rasanya kian melambat. Hari merambat kian pekat namun lelaki yang dicintai tak kunjung datang.

Sepuluh tahun dia mengabdi. Memberikan seluruh hidupnya pada lelaki itu. Berjuang melahirkan kedua orang anak. Dia telah memilih keluarga sebagai hidupnya. Tidak terlintas untuk memiliki karir. Menggunakan blazer dan heels. Meeting untuk membesarkan perusahaan. Mengatur jadwal untuk mengikuti training ini dan itu. Sepenuhnya dia mengabdi dengan hati. Totalitas menjadi istri dan Ibu.

Perempuan polos, usianya lebih muda dari saya. Belum menginjak 30 tahun. Penampilannya jauh dari kata modis. Make up yang dikenakan seadanya. Tutur katanya tidak halus. Kurang cakap memilih kata.  Apalagi menata dalam sebuah kalimat.

Kasar dan tidak terdidik. Itulah kesan pertama saya melihatnya,  Lima tahun yang lalu. Apalagi dia menebar permusuhan dengan saya. Padahal tidak sedikitpun kami mengenal satu sama lain. Perempuan itu dihasut oleh suaminya yang tidak lain adalah rival saya di kantor.

Kebencian saya terhadap perempuan itu berubah menjadi simpati. Ketika saya tahu dia dikhianati...

Comments

Popular Posts